Saturday, March 5, 2016

0 comments
Bismillahirrahmanirrahim sahabat surga semua, kali ini kami akan bercerita tentang kisah seorang budak yang luar biasa yang sudah dijanjikan surga. Beliau adalah Bilal Bin Rabah ^_^

Seorang budak berkulit hitam dari Habasyah (sekarang Ethiopia) yang tinggal di Mekah. Ayahnya bernama Rabah dan Ibunya bernama Hamamah. Setelah ayahnya meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf , seorang tokoh berpengaruh kafir quraisy. Ketika Mekah mulai diterangi cahaya keberkahan dengan hadirnya Rasulullah SAW, yang membawa kabar gembira dan peringatan juga membenarkan kisah-kisah terdahulu dengan mengumandangkan kalimat tauhid, Bilal menjadi salah satu dari orang-orang yang pertama masuk islam.

Pada suatu ketika majikannya, Umayyah Bin Khalaf mengetahui keislaman sang budak Bilal Bin Rabah, Umayyah pun murka bukan main. Umayyah bersama para algojonya juga kaum kafir quraisy menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang budak tersebut, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah, Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Abu Bakar menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Catatan :
1 uqiyah emas setara dengan 31,7475 gr emas. Dengan demikian, 9 uqiyah emas adalah sekitar 285,73 gr. Sekarang, harga emas berkisar Rp500.000/gram. Maka, jumlah yang dibayar Abu Bakar untuk membebaskan Bilal adalah 285,73 x Rp500.000 = Rp142.865.000. 
Begitulah akhirnya Bilalpun menjadi seorang yang merdeka dan selamat dari siksaan sang majikan. Kebebasannya menjadikan Bilal seorang yang semakin taat mengikuti ajaran agama Allah dan Rasul-Nya. Ketika Rasulullah Saw berhijrah ke Madinah. Bilal pun turut serta berhijrah ke Madinah untuk menjauhi siksaan kaum kafir Quraisy Mekah. Dia mengabdikan diri sepanjang hidupnya kepada Rasul yang sangat dicintainya. Dia menjadi pengikut Rasul yang setia dan selalu mengikuti setiap peperangan yang terjadi pada masa itu. Bahkan dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana akhirnya Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf mantan majikannya tewas di tangan pedang kaum muslimin.

Ketika Rasulullah Saw selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adzan, maka Bilal bin Rabah ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (muazin) dalam sejarah Islam. Bilal pun menjadi Muadzin tetap pada masa Rasulullah Saw. Suaranya yang begitu merdu sangat menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Rasulullah sangat menyukai suara Bilal. Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Saw seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Saw keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.


Ketika Rasulullah Saw akan menaklukkan kota Mekah, Bilal berada di samping beliau. Saat Rasulullah Saw memasuki Ka’bah, Beliau hanya didampingi oleh 3 orang saja, mereka adalah: Utsman bin Thalhah sang pemegang kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid orang kesayangan Rasulullah dan anak dari orang kesayangan Beliau Zaid bin Haristah, serta Bilal bin Rabah sang muadzin Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw menyuruh Bilal untuk naik di atas ka’bah dan menyerukan kalimat tauhid. Bilal menyerukan adzan dengan suara yang keras dan menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Ribuan leher manusia melihat ke arah Bilal. Ribuan lisan manusia yang mengikuti ucapan Bilal dengan hati yang khusyuk. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.


Saat adzan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, "Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu.... Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi." Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.


Khalid bin Usaid berkata, "Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini." Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Saw masuk ke kota Mekah.


Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, "Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka'bah."


Al-Hakam bin Abu al-'Ash berkata, "Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka'bah)."


Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, "Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah."


Pada suatu hari, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar bin Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu kemana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.


Begitulah sosok Bilal, dia selalu berada di belakang Rasulullah dalam kondisi apapun. Kecintaannya terhadap Rasulullah Saw pernah membuatnya terbuai dalam mimpi bertemu dengan Rasul sepeninggal beliau. Dalam mimpinya itu, Rasulullah Saw berkata kepada Bilal: “Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” Kemudian Bilal menjawab: “Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu,” kata Bilal masih dalam mimpinya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu. Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal bin Rabah segera memenuhi ruangan kosong dihampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.


Sesaat setelah Rasulullah Saw menghembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah Saw masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir disana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.


Sejak kepergian Rasulullah Saw, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Sehingga kaum muslimin yang mendengarnya ikut larut dalam tangisan pilu. Karena itulah kemudian Bilal memohon kepada Abu Bakar, sang khalifah yang menggantikan posisi Rasulullah Saw sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.


Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.” Kemudian Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”. Mendengar jawaban Abu Bakar, Bilal segera menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah Saw wafat.” Akhirnya Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus.


Pada suatu hari, ia bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw bersabda kepadanya, “Wahai Bilal, apa yang menghalangimu sehingga engkau tidak pernah menjengukku ?” Setelah bangun dari tidurnya, Bilal ra pun segera pergi ke Madinah. Setibanya di Madinah, Hasan dan Husain ra meminta Bilal ra agar mengumandangkan adzan. Ia tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang dicintainya itu. Ketika ia mulai mengumandangkan adzan, maka terdengarlah suara adzan seperti ketika zaman Rasulullah saw masih hidup. Hal ini sangat menyentuh hati penduduk Madinah, sehingga kaum wanita pun keluar dari rumah masing-masing sambil menangis untuk mendengarkan suara adzan Bilal ra itu. Setelah beberapa hari lamanya Bilal ra tinggal di Madinah, akhirnya ia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana pada tahun kedua puluh Hijriyah.


Pada waktu kedatangan Umar Bin Khattab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal setelah terpisah cukup lama. Pada saat itu khalifah Umar bin Khattab baru saja menerima kunci kota Yerussalem. Dalam pertemuan tersebut khalifah Umar bin Khattab meminta kepada Bilal untuk mau mengumandangkan adzan dan akhirnya Bilal mau menuruti permintaan sang khalifah. Mendengar Bilal menyuarakan adzan, kaum muslimin merasa sangat terharu, bahkan Umar tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menangis tersedu-sedu. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Saw. BiIal adalah pengumandang seruan langit itu.

Peristiwa tersebut merupakan adzan terakhir yang diperdengarkan oleh suara merdu dan syahdu Bilal bin Rabah dihadapan kaum muslimin. Bilal tetap tinggal di Damaskus hingga akhir hayatnya. Menjelang wafatnya Bilal pada tahun keduapuluh Hijriyah untuk menghadap sang Khalik, Bilal seringkali mengucapkan kata-kata secara secara beulang-ulang, kata tersebut adalah: “Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih… Muhammad dan sahabat-sahabatnya Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih… Muhammad dan sahabat-sahabatnya” Bilal –semoga Allah meridhainya- merupakan seorang hamba yang taat, wara’, tekun beribadah, nabi pernah bersabda kepadanya setelah shalat subuh : “Ceritakan kepada saya perbuatan apa yang telah engkau lakukan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara sendal kamu berada di pintu surga”, Bilal berkata : “Saya tidak melakukan sesuatu apapun yang lebih baik melainkan saya tidak pernah bersuci dengan sempurna pada setiap saat; baik malam dan siang hari kecuali saya melakukan shalat sebagaimana yang ditentukan untuk saya melakukan shalat”. (Al-Bukhari). Demikianlah kisah seorang Bilal, keteguhan, ketegaran dan keyakinannya akan ajaran kebenaran, telah mengangkat derajadnya dan menjadikannya seorang mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya meskipun dia berasal dari seorang budak hitam yang hina dan fakir.


Nah, sahabat surga dari cerita tersebut apa makna yang bisa kita ambil? Lalu sudah sampai manakah perjalanan hijrah kita? Semoga Allah selalu mengistiqomahkan kita dalam kebaikan dan membaikan orang lain yaa ^_^ perjalanan hijrah itu memang tidak mudah, seperti kata pepatah "Apabila jalan hijrah ini mudah pasti akan ramai yang menyertainya" tapi walaupun begitu dibalik kesulitan ada kemudahan dan dibalik kepedihan ada nikmat yang luar biasa. Jangan lupa bersyukur yaa sahabat :-)

Salam Ukhuwah dari kami, Hamasah Islam Poltekkes Bandung

Sumber :
1. http://www.lampuislam.org/2013/08/kisah-bilal-bin-rabah-seorang-budak.html
2. http://m.inilah.com/news/detail/2137900/abu-bakar-untuk-bilal-berapa-pun-aku-tebus
3. http://sariffirman.weebly.com/kisah-bilal-bin-rabah.html
0 comments

Assalamualaikum, kembali lagi bersama kami sahabat surga, mudah-mudahan tidak bosan yaa hihi kali ini kami akan mempromosikan event terbesar kami di akhir bulan maret. Hmmm, apalagi nih? Banyak acara banget ^_^

Iya sahabat, karena dakwah itu bukan hanya tentang mengajak pada kebaikan tapi juga terus mengingatkan agar tetap pada kebaikan tersebut. Kami insyaa Allah akan mengadakan acara yang luar biasa yaitu "SMILE (Studi Mengenal Islam Lebih Efektif) dengan tema "Dibalik Jejak Bumi Syam dan Perang Akhir Zaman". Event Hamasah Islam yang ini ada dibawah naungan Departemen Dakwah, mungkin sebagian dari sahabat bertanya-tanya kenapa sih harus ikutan event ini?

Pertama, karena event ini diisi oleh pemateri yang luar biasa yaitu :
1. Syeikh Ali Ahmad Muqbil (Sekjen Majelis Ulama Palestina) & H. Andri Lupias Sutedy. Lc.Ma
2. Abu Takeru atau nama aslinya Ust. Rizal Fadli Nurhadi (Alumni East Preston Islamic Collage Melbourne, Australia)
3. Ust. Evie Effendi (Pengisi Kajian Rutin Komunitas Pemuda Hijrah)
Bukan hanya itu saja gues starnya pun yang lagi ngehits banget, yapps Anandito Dwis dan Muezza loh huhuy pasti langsung pada semangat yaa hehe

Kedua, sahabat bisa bertemu dengan saudara-saudara kita dari banyak daerah. Siapa tau ketemu jodoh juga *eeehhhhh

Ketiga, sahabat juga bisa berbagi dengan saudara-saudara kita di Palestina yang hari ini masih berjuang mempertahankan tanah Islam disana. Allah berfirman dalam Q.S Al-Hadiid : 57 : “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” Waaaaahh, sampai Allah menjanjikan pahala yang besar buat sahabat yang mau berbagi. Barakallah yaa :-) apalagi janji Allah itu adalah pasti dan tentu saja benar.

Keempat, tentunya sahabat akan mendapat banyak ilmu yang bermanfaat dan bisa diaplikasikan langsung dikehidupan kita sehari-hari yang tentu akan lebih mendekatkan diri kita pada Allah SWT.

Kelima, sahabat dapet sertifikat dan kejutan lainnya dievent ini

Yakin nggak tertarik? Ayoooo buruan daftar dan ajak sahabat-sahabat yang lain untuk hadir dan bergabung bersama sahabat yang luar biasa lainnya. Siapkan catatannya yaa

SMILE (Studi Mengenal Islam Lebih Efektif)

"Dibalik Jejak Bumi Syam dan Perang Akhir Zaman"

Hari/tanggal : Minggu, 20 Maret 2016
Waktu : 08.00 s.d 14.10
Tempat : Direktorat Poltekkes Bandung (Jl. Padjajaran No.56 Bandung)

HTM :
1-10 Maret 2016 25K
11-19 Maret 2016 30K
OTS 50K

CP :
Janah (085721514664) (Akhwat)
Naufal (089695492373) (Ikhwan)

Bayar :
Rekening BNI 0409118997 a.n Aulia Hanifah

Daftar :
SMILE_nama_instansi/universitas/umum kirim ke contact person

Konfirmasi :
SMILE_sudah bayar

Karena sahabat yang luar biasa adalah yang mampu membuat saudara dan sahabat lainnya menjadi pribadi yang lebih luar biasa darinya. Kami tunggu kehadirannya yaa ^_^

Salam Ukhuwah dari kami. Hamasah Islam Poltekkes Bandung


0 comments
Bismillahirrahmanirrahim, sahabat yang diberkahi Allah insyaa Allah Grand Opening Mentoring Lanjutan ini adalah Program Kerja pertama dari Hamasah Islam diperiode ini khususnya dari Departemen Badan Koordinasi Mentoring yang dimana acara ini insyaa Allah akan dilaksanakan pada hari sabtu, 12 Maret 2016 pukul 08.00 s.d selesai di Auditorium Jurusan Gizi Poltekkes Bandung. Nah, adapun pematerinya yaitu Ust. Putra Sulung Baginda dan Kang Frindha Insan Firdaus yang akan memberikan suntikan motivasi untuk sahabat yang hadir sehingga lebih menguatkan lagi sahabat untuk isiqomah dijalan Allah.
Adapun tema yang diangkat pada Grand Opening Mentoring Lanjutan kali ini yaitu "PENA (Pribadi Penuh Warna)" maksudnya adalah pribadi yang positive yang akan mewarnai lingkungannya, dimana lingkungan yang beragam membuat kita harus pandai dalam memilih warna untuk membuat gambar itu indah bukan? Nah, sahabat-sahabat penasaran bagaimana caranya? Berarti sahabat wajib untuk datang ke Grand Opening Mentoring Lanjutan kali ini yaa karena selain sahabat dapat ilmu yang bermanfaat sahabat juga akan bertemu langsung dengan yang akan menjadi Murabbi sahabat nanti, waaaahhh pasti makin penasaran yaa, yuuk buruan daftar makanya jangan sampai menyesal karena melewatkan event yang satu ini. Hanya dengan Rp.10.000.00,- sahabat bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah yang luar biasa yang bisa menjadi investasi sahabat untuk diakhirat kelak, seperti dalam hadits “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).
Hmmm, gimana sangat menggiurkan bukan? yukk yang mau amalnya terus ngalir sampai setelah mati nanti jangan lupa hadir di Grand Opening Mentoring Lanjutan selain itu juga nanti akan ada kejutan untuk sahabat semua, daripada makin penasaran mending datang aja ke Grand Opening Mentoring Lanjutan Hamasah Islam.

Kami tunggu kehadiran sahabat surga semua, salam ukhuwah dari kami.
Hamasah Islam, Tetap Hamasah. Allahu Akbar!
0 comments

Assalamualaikum sahabat surga, lama tidak berjumpa yaa ^_^ bagaimana kabarnya?? mudah-mudahan selalu dalam nikmat Allah SWT yang luar biasa. Alhamdulillah dibulan maret ini kami mempunyai event-event yang luar biasa banyak sebagai amanah yang harus dijalankan, kami hanya mampu berencana selebihnya Allah lah yang menentukan segalanya jadi mohon do'anya yaa sahabat mudah-mudahan diberi kelancaran dan diridhoi oleh-Nya. Aamiin :-)

Thursday, December 31, 2015

2 comments
Ujian adalah bagian dari cinta Allah yang mungkin selama ini kita melupakan syukur pada-Nya, yang pada kesempatan ini mungkin Allah sedang rindu dengan air mata kita.Percayalah, itu bukan bentuk benci dari-Nya.

Semua sudah Allah jelaskan dalam firman-Nya :
"Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata : "kami beriman", sedang mereka tidak diuji (dengan suatu cobaan) ? (Q.S Al-Ankabut : 2)

Marilah bermuhasabah dan berfikiran positive, pandanglah setiap ujian itu adalah 'hadiah' dari Allah apapun itu bentuknya. Ujian tidak akan membuatmu lemah justru ia akan menaikan derajatmu jika mampu melewatinya dengan sabar dan ikhtiar, selalu ada manfaat dibalik apa yang Allah berikan jadi tidak ada alasan untuk mengeluh.

Dan bagi sahabat-sahabatku yang sedang diuji, bertawakalah kepada Allah SWT dalam menghadapi ujiannya dikampus atau dimanapun itu. Mintalah pertolongan dari Allah sebab Dia amat dekat pertolongan-Nya.

"Mukmin yang kuat itu lebih baik serta lebih dicintai oleh Allah SWT, daripada mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikan tersendiri. Bersemangatlah dalam mengerjakan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah" (HR. Muslim)