Cerita Perjalanan Hamasah Islam

Bismillah..
Bada Tahmid wa shalawat..
            Menjadi orang yang shalih / shalihah adalah impian setiap muslim, karena shalih adalah tiket untuk meraih Ridho Allah. Tapi ternyata skenarionya tidak sesingkat itu, menshalihkan diri sendiri saja tidak cukup untuk meraih RidhoNya. Sesuai dengan amanahnya sebagai khalifah fil ardh seorang muslim harus mau menularkan keshalihannya pada orang lain. Dalam surat Al Asr dijelaskan orang yang beriman saja masih berada dalam kerugian dan baru memasuki zona keberuntungan tatkala orang tersebut saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Surat inilah yang menjadi salah satu surat yang memotivasi seluruh muslim di dunia untuk bergerak meraih Ridho Allah swt dalam sebuah pergerakan dakwah.
            Sahabat.. Inilah dakwah, jalan cinta para pejuang. Dimanapun dan kapanpun jalan ini selalu terhampar dan terbuka bagi siapapun yang ingin ikut berjalan diatasnya. Berpondasikan AlQuran dan Ash Shunnah dan di ujungnya ada Allah swt. Permukaannya terjal penuh onak dan duri, tapi demi bertemu dengan Allah swt Sang cinta tertinggi, tetesan darah, keringat dan air mata tak pernah dihiraukan. Materi, mental, energi, waktu bahkan nyawa pun sudah pernah terkorbankan dijalan dakwah dan bahkan juga di kampus kita. Pernahkah teman-teman bertanya, bagaimana sejarah dakwah di kampus kita? Nah berikut ini cerita sejarah dakwah kampus Poltekkes Bandung..

            #Kedatangan “SANG MURABBI”
Ceritanya berawal pada tahun 1989, saat itu ada seorang mahasiswa Polban yang berjalan kaki pulang ke rumahnya. Pemuda ini orangnya sederhana, rajin dan taat beribadah. Dia sudah terbiasa berjalan kaki 3 jam / hari dari rumah ke kampusnya dan sebaliknya. Tapi kadang-kadang saat ada rezeki lebih dia naik bus. Sejak SMA ia bertekad akan membiayai sendiri kebutuhan hidupnya dan takkan bergantung pada orang tuanya. Sang pemuda biasa berjualan majalah dan buku di sela-sela waktu kuliahnya, sambil menimba ilmu dari majalah dan buku yang dijualnya. Alhamdulillah.. dia sudah aktif mengikuti pengajian halaqah setiap pekan.
Sampailah pada suatu hari saat berjalan kaki pulang, dia iseng mencoba sebuah jalan pintas yang baru ditemuinya saat itu. Alhasil dia malah tersesat dan tanpa disengaja sampai di sebuah masjid yang bernama Al Istiqlal. Dilihatnya di seberang masjid ada sebuah kampus bernama Akademi Analis Kesehatan yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dan dengar namanya.
Setelah kejadian itu dia sering singgah ke masjid itu, mungkin karena tertarik dengan suasana dan arsitektur masjidnya yang seperti rumah tradisional. Hingga suatu hari dia melihat ada beberapa mahasiswa yang sedang shalat berjamaah, kemudian setelah shalat dia coba dekati untuk berkenalan dan bersilaturahim. Alhamdulillah terjalin keakraban diantara mereka, lalu dia mengajak mahasiswa-mahasiswa itu untuk ngaji / mentoring. Alhamdulillah.. mereka menyambut baik ajakan sang pemuda dan konon katanya inilah kelompok halaqah pertama di kampus kita. Dan mungkin ini juga salah satu faktor yang menjadikan dakwah di analis hari ini cukup baik dibandingkan jurusan lainnya. Kelak beberapa tahun kemudian mahasiswa-mahasiswa tersebut yang menjadi para muasis atau masyaikh dakwah di kampus kita. Bahkan setelah mereka lulus dan bekerja di daerah masing-masing, mereka masih sengaja meluangkan waktu untuk datang setiap pekan ke kampus hanya untuk hadir di halaqah. Sungguh pada saat itu hadir di acara halaqah adalah kerinduan yang sulit terobati, jika 1 pekan saja tidak hadir di halaqah maka di pekan selanjutnya orang tersebut akan merasa malu saat bertemu dengan murabbinya.
            Bagi di kalangan akhwat mungkin mengenal nama Ustadzah Masfarwati, beliau adalah istri dari Ust. Hilman Rosyad Lc. Bu Imas (Panggilan beliau) adalah alumnus analis kesehatan sekaligus juga salah satu Sabiqunal Awalun (Generasi awal) halaqah akhwat di Poltekkes Bandung. Berdasarkan cerita, pada saat itu akhwat-akhwat di kampus kita banyak yang bercadar. Mereka begitu teguh menjaga izzah (kehormatan), jarang ada ikhwan yang berani mengajak mereka bercanda apalagi menggoda dikarenakan penjagaan hijab saat itu begitu ketat. Jika ada ikhwan yang kelepasan bercanda atau bahkan menggoda mereka, maka para akhwat ini langsung memberikan secarik kertas kecil pada ikhwan tersebut yang bertuliskan kata-kata teguran halus yang membuat ikhwan tersebut minta maaf dan tertunduk malu. Dari segi ekonomi para akhwat ini juga rata-rata cukup mapan, banyak yang datang ke kampus mengendarai mobil pribadi. Sedangkan para ikhwannya sendiri rata-rata naik delman dan sedikit yang naik motor ke kampus, katanya kondisi seperti ini membuat para ikhwan jadi minder pada saat itu ^_^

            #Pernikahan Dini “SANG MURABBI”
Dari penampilannya pemuda ini terlihat sosok orang yang biasa-biasa dan sederhana saja, namun siapa sangka ternyata dia memiliki mental yang luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan dia sempurnakan separuh diennya saat ia masih kuliah di tingkat akhir dengan seorang gadis blasteran arab dan indonesia. Selepas menikah mereka berdua tinggal di sebuah rumah kontrakan yang hanya terdiri dari 2 ruangan, 1 ruangan untuk kamar tidur dan 1 ruangan lagi sebagai ruang keluarga sekaligus ruang tamu sekaligus ruang serba ada. Melihat kondisi perekonomian murabbinya yang cukup memprihatinkan diam-diam para binaannya mengumpulkan uang untuk membantu perekonomian murabbinya. Tapi walaupun hidup cukup prihatin dia selalu terlihat sabar dan bahagia. Binaannya pun semakin tsiqoh, semangat dan semakin banyak jumlahnya.
Karena melihat jumlah mahasiswa yang halaqah mulai bertambah banyak akhirnya dia dan para binaanya mencoba membuat sistem perekrutan dan kaderisasi dakwah kampus agar peningkatan kuantitas dan kualitas ADK (Aktifis Dakwah Kampus) bisa dipertahankan dari tahun ke tahun. Sistem yang mereka buat Alhamdulillah berjalan baik, hingga akhirnya melahirkan organisasi-organisasi dakwah di setiap jurusan dan tidak hanya itu para ADK juga menjadi otak berdirinya seluruh KM Poltekkes.
Sayangnya orang setangguh dan secerdas beliau ini ternyata berkepribadian low profile. Beliau jarang terlihat di publik dan lebih sering bergerak di belakang layar, sehingga para binaannya lah yang sering menjadi garda terdepan dalam setiap aksi – aksi yang dilancarkan. Sehingga sampai hari ini namanya tidak pernah dikenal tapi Subhanallah.. karyanya dapat dirasakan banyak orang.

            #Karir “SANG MURABBI”
Tahun 1998 Indonesia bergejolak, kerusuhan besar memaksa Presiden Soeharto harus turun dari jabatannya lalu era Reformasi pun dimulai. Setahun kemudian Pemilu pertama era demokrasi dilaksanakan, disana banyak tokoh-tokoh baru diangkat menjadi pejabat legislatif baik di tingkat kota, provinsi dan pusat. Banyak dari para tokoh-tokoh tersebut yang masih berusia muda. Percaya atau tidak, takdir Allah berbicara disana tentang tokoh utama dari cerita ini. Saat itu di TVRI sedang disiarkan acara pelantikan anggota DPRD Kota Bandung, disana disebutkan satu-persatu nama aleg yang dilantik. Lalu disebutkan pula salah satu nama aleg, yang dinobatkan sebagai aleg termuda saat itu. Siapakah dia? Dia adalah sang pemuda dalam cerita ini. Saat menyaksikan berita ini binaannya sampai meneteskan air mata bahkan menangis di depan televisi, menyaksikan murabbi tercinta dilantik menjadi salah satu pejabat di negeri ini. Mengingat bagaimana kehidupannya dulu yang terbilang prihatin dan besar pengorbanannya di jalan dakwah khususnya di kampus kita.

            #Siapakah “SANG MURABBI” itu?
Mungkin teman-teman penasaran siapakah nama pemuda tersebut? Dimanakah dia sekarang?
Sekarang dia sudah menjadi salah seorang pengusaha sukses di kota Bandung, banyak yang sering memanggil beliau dengan panggilan ustadz padahal beliau sendiri tidak pernah ingin menjadi seorang ustadz. Beliau bernama Ustadz Joko Ardi dan sekarang masih tinggal di Bandung. Sudah berumur 40an namun masih terlihat muda, cerdas, bugar dan atletis.
Alhamdulillah saat bulan Ramadhan kemarin kami dari Forum Alumni Hamasah (FAHAM) berhasil mengundang beliau di sebuah acara ta’lim untuk peserta Menlan yang bertempat di Aula Jurusan Farmasi. Acara yang diadakan hari ahad tersebut baru disiapkan 3 hari sebelumnya dengan jumlah panitia 3 orang alumni dan 1 orang pengurus hamasah. Tapi biidznillah.. pada hari H aula itu sampai penuh oleh peserta yang hadir sampai beberapa orang harus rela berbagi kursi dengan yang lain. Saat beliau bercerita, seketika suasananya menjadi hening tapi seluruh mata tertuju pada beliau. Beliau bukan seorang motivator atau trainer. Intonasi dan susunan kata-katanya sederhana, tapi entah kenapa seperti ada tenaga yang menarik perhatian semua orang di ruangan itu.
Cerita tentang beliau ini saya dapatkan tanpa sengaja dari sahabat saya yang ternyata keponakan dari salah satu binaan beliau. Insyaallah ceritanya shahih.. Semoga pahala kita semua dan ribuan ADK terdahulu mengalir juga pada beliau sampai akhir zaman.. barakallahu fii.

#Lahirnya HAMASAH ISLAM
Tahun 2001 Depkes RI mengeluarkan kebijakan untuk melebur akademi – akademi kesehatan untuk berada dalam satu payung hukum berbentuk Politeknik. Akhirnya didirikan Poltekkes Bandung yang terdiri dari 6 Jurusan. Alhamdulillah pada saat itu dakwah sudah menyebar ke 6 jurusan tersebut, ditandai dengan adanya organisasi dakwah di tiap jurusan. Dan karena sudah melebur menjadi satu kampus, maka diperlukan organisasi baru yang bisa mengkoordinir rohis-rohis jurusan agar program-programnya bisa sinergis dan terintegrasi. Alhamdulillah pada tanggal 9 November 2001 dibentuklah HAMASAH (himpunan mahasiswa antar kampus kesehatan) diubah menjadi UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) pada tahun 2002 dan kemudian berganti nama menjadi UKI (Unit kerohanian Islam) pada tahun 2003 lalu pada tahun 2004 berdasarkan SK Presiden BEM- No.34/A/SK/BEM/II/2004 berganti nama menjadi HAMASAH ISLAM yang berarti Semangat Islam. Memiliki lambang sebuah lingkaran dengan  garis berliku di tengahnya dan berujung dengan satu titik. Arti dari lambang ini adalah jalan untuk menuju Allah itu berliku dan terjal, agar mudah melaluinya kita harus melaluinya bersama dalam lingkaran jamaah / ukhuwah karena Allah selalu bersama-sama dengan orang  yang  berjamaah. Lambang tersebut dibuat oleh Teh Putri Ayu Lestari (Kepgi 2005), Wakil Ketua Hamasah pada saat itu.

#Generasi Kepemimpinan HAMASAH ISLAM
·         2001 : Yayat Hidayat (Keperawatan Bandung)
Kang Yayat adalah Ketua Hamasah Islam Pertama, beliau dilantik saat masih kuliah tingkat 1. Saat beranjak ke tingkat 2 beliau dilantik menjadi Pres BEM pertama sekaligus beliau ini yang juga yang ikut merumuskan sistem dan susunan konsep KM Poltekkes yang sampai hari ini masih dipakai di kampus kita. Selain prestasi di kampus beliau juga banyak meraih prestasi di luar kampus, salah satunya beliau juga salah satu Pramuka Garuda Indonesia (Pangkat tertinggi anggota pramuka di Indonesia) dan atlet pencak silat. Sekarang beliau masih bekerja dan tinggal di Bandung dan menjadi salah satu kader dakwah yang memegang peranan penting di Jawa Barat.

·         2002 : Hubbulah Fuadzi (Kesling)
Nama panggilannya Kang Adi dan bernasib sama seperti Kang Yayat. Tingkat 1 jadi Ketua Hamasah Islam dan Tingkat 2 jadi Pres BEM. Beliau ini katanya dikenal sebagai PresBEM terbaik yang pernah mendapat penghargaan dari Direktur, karena dimasa beliau KM Poltekkes berkembang dengan pesat dan berhasil mengangkat nama kampus sampai ke tingkat nasional. Sekarang beliau bekerja di Lokalitbang Pangandaran.

·         2003 : Suci Vega (Keperawatan Bandung)
Nama panggilannya Kang Ega, saya tidak memiliki banyak informasi tentang beliau. Karena beliau ini hanya setengah tahun menjabat dan harus pindah kuliah ke Tasikmalaya. Sehingga posisinya digantikan oleh Wakil Ketuanya.

·         2004 : Giri Alghifari (Keperawatan Bandung)
Bagi teman – teman yang suka dunia nasyid pasti mengenal tim nasyid NANDA NASHEED. Tim nasyid ini terkenal pada tahun 2002 – 2007, cukup terkenal seperti layaknya edcoustic, tashiru, star 5 dll. Pernah tampil bersama dengan DEBU dan Raihan. Sudah meluncurkan beberapa album dengan lagunya yang terkenal Dambaku dan JSSWB (Jangan Siakan Setiap Waktu Berlalu). Nah.. kang giri ini adalah salah satu personil dan pencipta lagu-lagunya. Beberapa tahun yang lalu beliau menikah dengan salah satu pengajar di Jurusan Gizi dan sekarang tinggal diluar kota.
·         2005 : Giri Alghifari (Keperawatan Bandung)
Semakin tinggi pohon tumbuh maka semakin kencang anginnya, nampaknya filosofi ini bekerja di Hamasah Islam. Berdasarkan cerita yang pernah didengar dimasa ini Hamasah Islam menerima ujian yang cukup berat. Hamasah hanya beranggotakan kurang lebih 10 orang terdiri dari 2 orang ikhwan dan sisanya akhwat ,sehingga saat mengadakan acara-acara terpaksa para akhwat harus rela menjadi Atang (Akhwat Tangguh) atau Akper (Akhwat Perkasa). Ditambah lagi dengan kondisi uang kas yang dilanda krisis kanker (kantong kering) dan belum lagi aliran-airan sesat mulai menyebar di kampus kita.

·         2006 : Dian Faridi (Analis Kesehatan)
Kang Dian dilantik menjadi Kaham saat masih tingkat 1 beliau orangnya cerdas, kreatif dan pandai bergaul. Alhamdulillah.. di angkatan ini HI mengalami Pembaharuan untuk pertama kalinya pengurus hamasah berjumlah sekitar 20 orang. Diawal kepengurusan mereka hanya berbekal dana Puluhan ribu rupiah tapi biidznillah diakhir kepengurusan uang kas melonjak menjadi jutaan rupiah. Banyak cerita-cerita menarik angkatan ini seperti tiba-tiba dapat dana bantuan tak terduga yang jumlahnya besar, dihina terang-terangan di kelas oleh dosen yang anti-dakwah sehingga beberapa akhwat menangis karena tersinggung dan sering disebuah acara silaturahim setiap orang menuliskan perasaan suka-dukanya di jalan dakwah pada secarik kertas kemudian ikhwan / akhwat menangis saat membacakannya dll. Bisa dibilang di angkatan ini ukhuwahnya sangat terasa dan menyatu saling melengkapi seperti layaknya keluarga. Salah satu karya angkatan ini yang masih ada sampai sekarang adalah Proker SMILE dan TFM.

·         2007 : Rasyid Ridho (Analis Kesehatan)
Nama panggilannya Kang Ochid, beliau ini orangnya dewasa dan tampak berwibawa. Di angkatan beliau pengurus hamasah bisa mencapai 70an lebih dengan komposisi pengurus ikhwannya paling banyak diantara angkatan sebelumnya. Alhamdulillah.. diangkatan ini Hamasah semakin lengkap, naik tingkat menjadi LDK tingkat Madya satu tingkat dibawah ITB dan UI. Sistem tarbiyah mulai disempurnakan, 2 orang yang banyak berjasa dalam menyusun sistem tarbiyah di hamasah adalah Wimba dan Azmi (2007). Mereka juga yang memprakarsai berdirinya BKM beserta sistem kerjanya dengan Akh Cepi sebagai ketua pertamanya, pembuatan buku massa juga mulai disempurnakan di angkatan ini. Selain itu di angkatan ini juga pertama kalinya MPO dibentuk dan Hamasah bisa membina belasan LDK lainnya yang tersebar di Kampus-kampus kesehatan di wilayah Cimahi dan Bandung. Proker terkenal karya angkatan ini adalah Silabus (Kaderisasi Pengurus) dan Muday (Muslimah Day).

·         2008 : Ridwan Ginanjar ( Kesling )
Merupakan alumnus SMPN 1 Bandung dan SMAN 9 Bandung yang sebelumnya mengamanahi ketua inQilab. Alhamdulillah.. diangkatan ini mulai terasa manisnya kemenangan dakwah, walaupun bukan kemenangan yang sebenarnya. Hampir semua Unit Kampus dipegang oleh kader dakwah khususnya Hamasah Islam.

#MPM
Ketua : Richard Afandi (beliau seorang yang hanif dan ikut halaqah juga, sekarang beliau menjadi seorang trainer)

#BEM
Presiden : Ryan Juliansyah (Div.Tarbiyah HI & inQilab)
Wapres : Bambang TS (Div Tarbiyah HI)
Menteri – Menteri dan stafnya : Dodi (Ketua Prisma), Wina (Kadept Prisma), Nuni (Kadiv Muslimah HI), Yayu (Pengurus Rabbani), Aryanti (Div.Muslimah HI) dll

#Lisema
Didirikan oleh 12 orang pengurus Hamasah (Wimba, Daud, Doddy, Firli, Opik, Dewi, Jesi, dll). Dalam setiap pementasannya selalu bisa menjaga hijab dan interaksi lawan jenis. Skenario yang dibuat selalu diusahakan berdasarkan syariat islam tapi dengan tema dan judul yang umum.

#Kesling
Kahim Kesling : Amnurokhim (Div.Danus HI)
Wakil Kahim : Irfan (Div.Danus HI) dan pengurus lainnya seperti astri, nurul, cintia, Fadhil (Pengurus HI)
Ketua BPMJ : Totep Hardiatna (Kader inQilab)
Sekretaris : Delia (Div.Danus HI)

#Analis :
Kahim : Aziz Muslim
dengan pengurusnya yang didominasi oleh HI seperti Wimba, Daud, Dewi, Doddy, Salma, Gina, Ridhi dll
Rattle Snack : Wahyudin, Arie, Opik, Novi (Pengurus HI), Deni (Ketua Gama)

#Gizi
Kahim : Ano Rosdiana (Div Danus HI)
Wakil Kahim : Azmi, dengan dikepengurusan : Evi, Desi, Aqli, Feni
Ketua BPMJ : Dea (Div.Tarbiyah)

#Keperawatan
Kahim : Sulaiman (Div.Dakwah HI)
Wakil : Langgeng dengan dikepengurusan : Opik, Cepi, Irvina

#Kepgi
Kahim : Firman (Div.Dakwah HI) dengan di kepengurusan : Lisna, Agus

#Kebidanan
Kahim : Foezi Citra Cuaca Elmart (Yang sekarang jadi trainer dan penulis buku Menikah itu Mudah) dibantu oleh Dewi Erita, Amel dan Asri NF

Dibentuk juga 2 tim nasyid yang diberi nama d’nouval (Keperawatan) dan Kur Fliegen (Kesling) yang rata-rata pengurus HI juga. Walaupun belum menciptakan lagu dan masuk dapur rekaman, tapi Alhamdulillah sudah pernah manggung dari jurusan ke jurusan dan ke kampus kesehatan lainnya ^_^
Karya yang bisa dibuat oleh angkatan ini antara lain software HIT (Hamasah Interaktif Tools), Hamday (Hamasah Day), One day For Palestine dan Muday dengan pemateri Istri Gubernur Jabar.

·         2009 : Dea Perdana Rifai (Gizi)
Beliau berasal dari Sukabumi, amanahnya merangkap sebagai Ketua BPMJ Gizi. Hobinya membaca dan mengoleksi buku terutama Buku Fiqih, pernah meraih penghargaan sebagai Bassis terbaik waktu SMA. Namun sayang beliau hanya 5 bulan memegang amanah dan mengundurkan diri karena suatu hal. Posisinya digantikan oleh Teguh Aprian MG, merupakan Ketua HI termuda karena lahir pada Maret 1993 sehingga pada saat dilantik usianya kurang lebih baru 16 Tahun. Diangkatan ini juga banyak prestasi yang ditorehkan.
·         2010 : Teguh Aprian MG (Analis Kesehatan)
·         2011 : Fahrizal Latif (Analis Kesehatan)
·         2012 : Haidar Rizki (Gizi)

            # Kata- Kata Penutup
Sejak zaman dahulu sejarah telah membuktikan bahwa kebangkitan dan kegemilangan peradaban selalu lahir dari tangan – tangan para pemuda. Maka bersyukurlah bagi mereka yang mengisi masa mudanya dengan  Ibadah, amal baik dan peduli pada orang lain. Bukanlah umatku mereka yang bangun tidur dan tidak memikirkan kondisi umat, begitulah Rasulullah saw berpesan. Tapi ada juga pemuda yang tidak mau berjuang hanya karena takut pada kata “amanah”
Padahal amanah itu bertujuan untuk mencerdaskan bukan mendzalimi. Ingatlah saat Rasulullah saw menerima ayat pertama, apakah beliau senang? Bangga?.. Tidak !.. Beliau bahkan ketakutan, menggigil kemudian meminta diselimuti oleh istrinya. Beliau merasa tidak pantas menerima amanah tersebut. Beliau selalu beristighfar min 100x/hari karena merasa punya keterbatasan padahal beliau sudah dijamin masuk surga. Tapi Allah Maha Mengetahui bakat terpendam pada diri beliau, Allah percaya beliau bisa memikulnya. Begitupun kita hari ini.. wajar.. jika merasa takut atau kurang PD saat menerima Amanah karena itu sifat manusiawi. Tapi tidak wajar jika menyerah sebelum maju ke medan laga. Laa yukalifullahu illa wusaha, amanah yang Allah titipkan sesuai dengan kemampuan kita. Allah percaya kita mampu karena Allah Maha Mengetahui potensi dalam diri kita, lalu apakah kita percaya pada diri kita sendiri?.. percayalah amanah-amanah di kampus ini hanya latihan-latihan kecil sebelum memikul amanah yang lebih besar di masa depan nanti

Afwan jiddan
Alfaqir illa maghfirati Rabbihi
Wallahu alam bishawab

Penulis : Ridwan @lhamasah


1 comments:

Anonymous said...

Subhanallaah.. ma syaa Allaah.. terharu.

Post a Comment